Walikota Mengusir Saksi Paslon Bajo dari TPS

Pilkada Serentak (Ilustrasi)

Saksi diminta keluar dari TPS karena berasal dari luar kota

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO – Saksikan pasangan calon (pasangan calon) 02, Bagyo Wahyono-FX Suparjo (Bajo), dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Solo 2020 diminta keluar TPS oleh Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, saat pencoblosan di TPS 18 Desa Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Rabu (9/12). Saksi diminta keluar dari TPS karena berasal dari luar kota, sehingga dikhawatirkan terjangkit virus Corona (Covid-19).

Rudyatmo datang ke tempat pemungutan suara untuk memberikan suaranya. Dia memakai kemeja putih. Usai pemberian hak pilih, Rudyatmo terlihat berdebat dengan saksi dari Bajo. Setelah itu, saksi diminta keluar dari area TPS. Rudyatmo mengatakan tindakannya untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Sampai saat ini yang jadi masalah adalah saksi. Banyak saksi yang datang dari luar kota. Masyarakat yang ribut takut dengan Covid. Makanya disuruh pergi,” kata Rudyatmo yang juga Ketua DPC PDP Solo itu.

Menurut dia, sejumlah warga juga mengeluhkan kehadiran saksi dari luar kota ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Solo. Namun, ternyata sesuai aturan KPU, saksi dari luar kota diperbolehkan asalkan membawa surat tugas. Warga juga mengeluhkan adanya saksi yang datang pada malam hari dan tidak meminta izin dari masyarakat sekitar.

“Tadi malam sibuk, saya tangkap HT, laporannya ditolak saksi putus sekolah dan lain sebagainya. Tapi karena aturan KPU memperbolehkan, silakan saja,” ujarnya.

Saksi yang diminta keluar adalah Djoko Heru Angkoso (53), warga Kudus. Djoko mengaku sudah membawa surat tugas dari timnya. Ia tidak tahu bahwa untuk menjadi saksi ia harus melapor kepada warga.

“Dari tim juga sebelumnya tidak ada petunjuk izin ke lingkungan sekitar. Kalau diminta lapor tentu akan saya laporkan. Saya juga sudah bawa hasil quick test dari Kudus supaya nanti tidak ada kendala,” kata Djoko.

Baca:  Sengketa Pilbup Tasikmalaya, Saksi Terima Uang Rp 25 Ribu

Djoko menyatakan, pengangkatannya sebagai saksi tidak melanggar aturan KPU. Selain itu, secara prosedur, tidak ada aturan tertulis untuk melapor kepada warga. Djoko segera mendatangi TPS untuk melapor ke KPPS. Namun, dia tidak keberatan ketika diminta walikota untuk meninggalkan kawasan TPS.

Sementara itu, Ketua KPU Solo Nurul Sutarti menegaskan, alokasi terkait saksi adalah membawa surat amanat dari pasangan calon atau tim sukses dan harus menunjukkan surat uji cepat. Jika Anda tidak membawa atau tidak dapat menunjukkan kedua surat tersebut, maka surat tersebut dapat ditolak.

“Tapi kalau masalahnya di luar kota, tidak bisa dikesampingkan karena memang tidak ada dalam Peraturan KPU saksi atau pemilih dari daerah pemilihan atau TPS,” jelasnya saat dihubungi wartawan.

Nurul mengaku, sejak pagi ini KPU Kota Solo telah menerima pengaduan sejumlah saksi yang ditolak karena berasal dari pedesaan. “Kalau dari luar kota tidak bawa surat amanat atau ujian cepat, bisa ditolak karena kita sudah mengajukan kasasi, meski tidak diatur dalam Peraturan KPU, tapi keselamatan adalah hukum tertinggi. Kalau ada laporan, kita semua bilang kalau tidak tampil cepat. , kemudian bisa ditolak. bisa ditolak, ”terangnya.