SPPI berduka atas kecelakaan anggota awak yang hilang di kapal penangkap ikan Mauritius

SPPI mendukung penyelidikan atas kasus Kapal Ikan Mauritius. Illustrasi ABK ilang

SPPI mendukung penyelidikan kasus Kapal Perikanan Mauritius

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI) Achdiyanto Ilyas Pangestu mengaku kesal atas tragedi yang menimpa tujuh awak kapal penangkap ikan Mauritius di Afrika selama delapan hari terakhir, pada 26 Februari 2021. . .

"Keluarga besar SPPI kembali berduka, anggota SPPI termasuk yang menjadi korban peristiwa ini, SPPI DPP sudah berkoordinasi dengan perusahaan pelayaran, Kementerian Luar Negeri (PWNI BHI) dan perwakilan di Maourotius," kata Ilyas dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/2). 7/3).

Ilyas mengatakan, saat ini penyidikan sedang dilakukan oleh pihak yang berwenang di sana. Ia berharap bisa segera mendapat penjelasan tentang kejadian tersebut.

Pada kesempatan yang menyedihkan ini, saya selaku Ketua Umum DPP Serikat Pekerja Perikanan Indonesia-SPPI memohon doa kepada masyarakat Indonesia dan anggota SPPI dimanapun agar dapat segera menyelesaikan kasus ini dan memfasilitasi koordinasi dengan seluruh Kementerian terkait. dan Institusi dalam dan luar negeri, ”tambahnya. Ilyas.

Untuk kasus ini, lanjut Ilyas, SPPI DPP telah berkoordinasi dengan pihak terkait antara lain Kementerian Luar Negeri / PWNI-BHI, perwakilan di Mauritius dan keluarga ABK yang tergabung dalam SPPI.

“Jangan lupa juga berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri PWNI BHI yang merespon dengan cepat setelah menerima laporan tersebut, dan juga berterima kasih kepada perwakilan SPPI di Mauritius Puan Elly Kamsir yang dengan tulus memasukkan kasus ini,” lanjut Ilyas.

Ilyas memastikan ABK yang dikirim oleh perusahaan yang telah melaksanakan CBA (Kesepakatan bersama) dengan SPPI otomatis akan mendapatkan bantuan termasuk keluarganya oleh SPPI DPP.

“Kami berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang. Oleh karena itu dalam berbagai kesempatan kami selalu meminta kepada pemerintah Indonesia untuk segera meratifikasi C188, jika terjadi kasus seperti itu akan lebih mudah diselesaikan karena ada kewajiban antar negara anggota untuk segera meratifikasi C188. tolong. "Ilyas menjelaskan.

“Pada kesempatan ini saya juga meminta kepada awak kapal penangkap ikan yang bekerja di kapal berbendera asing di luar negeri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan saudara sendiri, kami menghormati pihak berwenang di Mauritius untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, dan kami memastikan awak kapal yang lebih muda. Awak perikan yang bekerja di kapal nasional asing tidak tinggal diam, ”pungkas Ilyas.

Sebelumnya, orang tua kedua korban mengatakan kepada wartawan di Atambua, Sabtu (6/3) sore. Menurut orang tua kedua korban, Piter dan Yus bekerja sebagai awak kapal penangkap ikan yang ditampung oleh sebuah perusahaan resmi.

Keduanya bekerja di luar negeri melalui jalur resmi dan memiliki dokumen lengkap. Kapal penangkap ikan tempat mereka bekerja beroperasi di Afrika.

Piter dan Yus dikabarkan hilang setelah pihak keluarga mendapat informasi awal dari teman-temannya yang sama-sama bekerja di luar Afrika. Dari informasi awal tersebut, keluarga mencari informasi melalui perusahaan tempat anaknya bekerja dan melalui KBRI Afrika.

Baca:  Tanam Terumbu Karang Setara dengan 20 Pohon