Rumah Sakit Wabah di Turki Menjadi Pusat Pendidikan Islam

Rumah Sakit Wabah di Turki Jadi Pusat Pendidikan Islam. Foto: Istanbul ibu kota Turki Utsmani

Rumah sakit ini nantinya akan digunakan sebagai pusat pendidikan Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL – Rumah sakit epidemi pertama yang didirikan di Turki telah dialihkan ke manajemen Direktorat Urusan Agama (Diyanet). Menurut laporan harian Sozcu pada 5 September 2020, rumah sakit tersebut akan dijadikan pusat pendidikan Islam.

Sanatorium Heybeliada di Pulau Heybeliada di lepas pantai Istanbul dibangun dari sebuah bangunan bersejarah pada tahun 1924 sebagai rumah sakit tuberkulosis. Rumah sakit itu didirikan atas perintah pendiri Republik Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk. Perawatan rumah sakit sebagian besar untuk kenyamanan pasien dengan penyakit yang saat ini tidak dapat disembuhkan.

Kementerian Kesehatan Turki menutup gedung tersebut pada tahun 2005, dengan alasan sulit bagi mereka untuk memasuki Pulau Heybeliada dan jumlah pasien di rumah sakit tersebut telah menurun drastis. Pemindahan gedung ke Diyanet terungkap saat wakil oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP), Umut Oran, melamar ke Pusat Komunikasi Presiden (CIMER). Dia bertanya tentang nasib Sanatorium. Presiden mengatakan dalam menanggapi Oran bahwa gedung dengan 660 tempat tidur telah dipindahkan ke Diyanet.

Namun, Oran mengkritik tindakan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa. Dia mengatakan langkah tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional Turki, bahwa sebuah rumah sakit, yang didirikan pada tahun 1924 dan mengkhususkan diri pada tuberkulosis, penyakit paru-paru, dan bedah dada, telah ditutup dan dipindahkan ke Diyanet.

"Sayangnya, tidak ada hikmah dan pengetahuan dalam memerangi virus corona. Alih-alih menggunakan apa yang tersedia, pemerintah AKP justru menghancurkan gedung-gedung yang ada dan membuang-buang uang, dalam menghadapi epidemi dan krisis ekonomi abad ini," kata Oran seperti dikutip di Duvar. Inggris, Selasa (8/9).

Baca:  Israel Setujui Hibah Organisasi Anti-Islam AS?

Sementara itu, muncul petisi di situs change.org yang menuntut agar Sanatorium Heybeliada diubah menjadi & # 39; Museum Tuberkulosis & # 39; dan & # 39; Pusat Karantina & # 39;. Hingga pukul 17.00 waktu setempat pada 7 September 2020, lebih dari 41.000 orang telah menandatangani petisi.