Ratusan pengunjuk rasa di Malang mengikuti tes cepat

Polisi menghalau pendemo dengan gas air mata saat unjuk rasa menolak Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibus Law di jalan Kertanegara, Malang, Jawa Timur, Kamis (8/10/2020). Selain mengakibatkan puluhan polisi serta pendemo luka-luka, unjuk rasa tersebut juga menyebabkan sejumlah kendaraan rusak dan beberapa diantaranya dibakar oleh massa.

Pengunjuk rasa positif untuk Covid-19 akan dibawa pulang dengan selamat untuk karantina selama 14 hari

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG – Pengunjuk rasa yang diamankan oleh Kepolisian Resor (Makota) Kota Malang meningkat menjadi 129 orang. Kini ratusan pengunjuk rasa yang beraksi di sekitar Gedung DPRD dan Balai Kota Malang harus menjalani tes cepat (tes cepat) Covid19.

"Ini adalah beberapa orang yang kami selamatkan dari demonstrasi anarkis. Kami melakukannya tes cepat ke mereka. Jika ada sesuatu yang reaktif, kami akan segera melakukannya uji sapu, ”Kata Kapolsek Makota Kombespol Leonardus Simarmata kepada wartawan di Malang, Kamis (8/10) malam.

Jika ada pengunjuk rasa positif terhadap Covid-19, mereka akan dibawa ke sana Rumah aman. Di sini, pengunjuk rasa akan menjalani karantina selama 14 hari. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran Covid-19 di masyarakat.

Selain itu, polisi juga telah memisahkan pengunjuk rasa yang diamankan sesuai perannya masing-masing. Pengunjuk rasa yang tidak terlibat dalam perusakan kendaraan akan dikembalikan ke rumah mereka. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, yang bersangkutan akan diproses sesuai hukum.

Dari ratusan pengunjuk rasa yang diamankan, 21 di antaranya adalah mahasiswa. Menurut Leonardus, keikutsertaan mereka dalam demonstrasi hanya sebagian saja. Mereka tidak tahu bagaimana demonstrasi itu dan bagaimana wacana tentang aksi ini.

“Makanya kita akan atur dulu (siswa) karena kita masih perlu melakukan ujian,” terangnya.

Ribuan mahasiswa dan pekerja yang tergabung dalam koalisi "Malang Melawan" menggelar aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPRD dan Balai Kota Malang, Kamis (8/10). Demonstrasi ini diwarnai dengan tindakan membuang botol, batu, suar, kayu dan sebagainya ke gedung DPRD Kota Malang di jaga aparat kepolisian.

Baca:  Lebih dari 22 Warga Positif Covid-19 di Kota Malang

Aksi ini pun disambut baik oleh petugas dengan tembakan gas air mata dan air (kaleng air). Beberapa kendaraan pemerintah dan polisi juga mengalami kerusakan akibat pecahan kaca hingga titik pembakaran.