Perang tersebut menewaskan Franco-Makassar di Thailand

Perang Makassar

Perang tersebut menewaskan Franco-Makassar di Thailand

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subhan Mustaghfirin, sejarawan dan penduduk Yogyakarta.

Perjanjian Bungaya pada tahun 1667 mengakhiri perang 13 tahun antara Kerajaan Gowa yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin dan VOC. Terlepas dari apa yang disebut perjanjian damai, semua isinya menunjukkan deklarasi kekalahan Kerajaan Gowa.

Kekalahan Belanda dan Bugis di bawah Arak Palakka tidak diterima oleh sebagian besar panglima Kerajaan Gowa. Selain Laksamana Karaeng Galesong, Laksamana Karaeng Bontonompo, dan Karaeng Bontomarannu, ada pula I Yandulu Daeng Mangalle yang meninggalkan Makassar.

Daeng Mangalle meninggalkan Makassar karena tidak menerima ratifikasi Perjanjian Bongaya, perjanjian yang sama sekali menghilangkan keunggulan Gowa-Tallo sebagai kekuatan maritim. Dia pergi, menolak tunduk pada Belanda.

Menurut Mohammad Laica Marzuki dalam bukunya "Seri ': Divisi Kesadaran Hukum Bugis-Makassar: Kajian Filsafat Hukum", ia menulis bahwa adik Sultan Hasanuddin harus meninggalkan tanah air pada tahun 1660 setelah difitnah. oleh salah satu istri raja.

Setelah tiga tahun menetap di Jawa, Daeng Mangalle menikah dengan Angke Sapiah, putri salah satu raja yang konon memiliki ikatan darah dengan raja-raja Makassar.

Daeng Mangalle kemudian pindah ke daratan Siam. Permintaan suaka kepada Raja Ayutthaya saat itu, Somdet Phra Narai (Ramathibodi III), dikabulkan. Singkat cerita, Daeng Mangalle dan keluarganya serta 250 pengikut yang terdiri dari pria, wanita dan anak-anak menginjakkan kaki di Kerajaan Ayutthaya pada tahun 1664.

Lebih lanjut, Paul Gervaise, sejarawan Prancis, menggambarkan kedatangan mereka disambut oleh Raja Narai bahkan diberikan penempatan mereka di tepi sungai dekat desa Malaya. Kebetulan, orang Melayu dan Makassar sama-sama memeluk agama Islam.

Dengan reputasi sebagai tim sukses, masyarakat Makassar saat itu tidak kesulitan menjalin hubungan dengan beberapa kelompok lain seperti Minangkabau, Campa, Gujarat, dan masih banyak lagi.

Baca:  Isolasi Selesai, Santri Blokagung tidak lagi reaktif