Operator Hotel-Restoran Pasti Pengunjung Akhir Tahun Akan Bertambah

Pekerja beraktivitas di Swiss-Belhotel Rainforest, Kuta, Badung, Bali , Kamis (9/4/2020). Sejumlah hotel di Bali menawarkan berbagai program promosi seperti potongan harga untuk menginap harian serta paket menginap mingguan dan bulanan dengan harga murah sebagai upaya untuk meningkatkan okupansi yang mengalami penurunan akibat dampak dari penyebaran COVID-19 atau virus Corona.

Operator hotel yakin pengunjung mengalami peningkatan tapi belum maksimal

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia optimistis bisa mendapatkan peningkatan pengunjung pada akhir tahun ini. Optimisme tersebut tetap ada meski pemerintah telah memutuskan untuk mencabut cuti akhir tahun untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mengatakan pergerakan wisatawan pasti meningkat. Namun likelihood tersebut belum bisa dimaksimalkan karena adanya cut off period.

“Saya yakin pasti akan terjadi pergerakan, satu-satunya masalah adalah memutus cuti, berapa lama okupansi bisa bertahan di level tinggi yang akan diukur nanti,” kata Maulana saat dihubungi, Jumat (11/12).

Ia mengatakan, sertifikasi Clean, Health, Safety & Environment (CHSE) dinilai cukup membantu operator hotel dan restoran. Sebab, sebelum diratifikasi, pemilik bisnis hanya membuat pernyataan atau klaim sendiri tentang penerapan protokol kesehatan.

Adanya sertifikat yang diuji oleh lembaga independen akan memberikan nilai tambah bagi hotel dan restoran yang telah mengantongi sertifikat. Namun, kata dia, bagi konsumen, sertifikasi CHSE tetap harus disosialisasikan sehingga berdampak pada daya saing pelaku industri pariwisata.

“Semakin orang tahu apa itu sertifikat CHSE, semakin berdampak pada penghuninya karena tentunya masyarakat akan memilih yang sudah tersertifikasi,” ujarnya.

Baca:  Pajak Mendorong Program Vaksinasi untuk Pemulihan Ekonomi