Memasuki Pasar Cina secara resmi, J&T Express yakin akan bertahan hidup

Pekerja menata barang yang akan dikirim melalui kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat (ilustrasi). Perusahaan jasa pengiriman yang fokus layani e-commerce J&T Express resmi masuk pasar China

Pangsa pasar layanan pengiriman di China mencapai 220 juta pengiriman harian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan jasa pelayaran fokus pada jasa perdagangan elektronik J&T Express resmi masuk ke pasar Tiongkok sejak Maret 2020. J&T Express mengaku optimistis bisa bertahan di negeri tirai bambu ini.

“Kita tidak bilang jadi besar di China, tapi bahasanya, bagaimana kita bisa bertahan,” kata CEO J&T Express Robin Lo dalam acara virtual di Jakarta, Selasa (25/8).

Pasar Cina juga disebut Robin sebagai pasar terbesar di dunia. Dibandingkan Indonesia yang memiliki sekitar 4 juta pengiriman per hari, China telah mencapai 220 juta pengiriman per hari.

Dengan pasar sebesar itu, Robin yakin masih ada peluang bagi perusahaan yang sudah berusia lima tahun ini.

"Ada lima perusahaan pelayaran yang sudah cukup besar. Antara perusahaan raksasa dan pasar yang begitu besar, masih ada pasar kecil yang belum diambil alih oleh pemain besar. Begitulah cara kita masuk ke China, kita ambil pelanggan yang tidak ditangani oleh pemain besar." dia berkata.

Menurut Robin, cara itu awalnya diterapkan di Indonesia. Dengan pesatnya perkembangan e-commerce, dimana ia memanfaatkan pelanggan kecil yang tidak dimanfaatkan oleh para pemain besar

“Karena perkembangan e-commerce yang begitu pesat, otomatis perusahaan logistik besar tidak bisa menangani yang kecil karena mengutamakan yang besar. Kita hanya perlu meningkatkan pelayanan, pelanggan senang dan saya yakin yang kecil ini akan menjadi besar. Jadi tidak peduli di dalam negeri dimanapun ada kesempatan seperti itu, ”ujarnya.

Selain Indonesia, J&T Express saat ini beroperasi di Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, Singapura, Kamboja, dan Cina.

Meski sudah merambah pasar ASEAN plus China, Robin mengakui kontribusi pendapatan terbesar berasal dari operasional di Indonesia. Ia mengatakan, sebagai perbandingan, rasio kontribusi Indonesia dengan negara lain berkisar 50:50.

Ia juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi saat memulai pengembangan bisnis, mulai dari kondisi lingkungan, kebijakan pemerintah hingga budaya yang berbeda. Termasuk bahasa yang berbeda-beda, biasanya belanja atau e-commerce. Setiap kita masuk ke negara baru, kita optimalkan pekerja lokalnya agar bisa beradaptasi dengan keadaan yang ada, ”kata Robin.

sumber: Antara