Klopp menyadari kemarahannya membuatnya terlihat bodoh

Pelatih Liverpool, Juergen Klopp.

Klopp membahas karakternya sebagai bagian dari film dokumenter Liverpool.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jurgen Klopp mengakui kegembiraannya di luar ketika manajer Liverpool membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Namun bos The Reds itu menegaskan dia sudah lama berusaha mengubah perilakunya. Faktanya, dia telah belajar untuk tenang dan berubah secara signifikan sejak hari-hari awalnya sebagai pelatih.

Klopp membahas karakternya sebagai bagian dari film dokumenter Liverpool berjudul The End Of The Storm. Klopp mengatakan dia telah melunak sejak formasinya di Bundesliga Jerman.

Setelah hampir dua dekade karir manajemen, Klopp mengatakan dia tidak bisa berubah, tetapi mengklaim dia jauh lebih santai daripada di tanah airnya. Klopp yakin dirinya masih menyimpan jumlah kartu merah untuk pelatih Bundesliga tersebut.

Hal paling jelas yang dilihat orang adalah saya sangat bersemangat dan mengertakkan gigi, seperti ini, kata Klopp. Liverpool Gema, Rabu (11/11).

Ia mengaku tidak bisa membayangkan dirinya sebagai pemikir, berdiri di trotoar selama 90 menit memegang dagu atau apapun yang menjadi ciri orang yang berpikir. Dia juga menyadari ada saat-saat tertentu dia masih terlihat seperti orang bodoh.

"Saya memiliki momen-momen saya, itulah mengapa saya mungkin masih berada di Jerman sebagai pemegang rekor kartu merah untuk manajer," katanya. "Untuk memastikan saya membayar denda tertinggi di Bundesliga Jerman. Ironisnya itu juga tidak membantu, wasit tidak bisa menanganinya."

Kartu merah pertamanya sebagai pelatih adalah ketika dia bertanya kepada wasit berapa banyak keputusan yang salah diperbolehkan. Sebab jika usianya masih 15 tahun, timnya kembali salah mengambil keputusan. Wasit sangat marah dan mendapat kartu merah saat Klopp dalam perjalanan ke tribun. "Tapi saya tenang," kenangnya.

Baca:  Arsenal kalah, Arteta tetap bangga dengan pemainnya

The End Of The Storm disutradarai oleh James Erskine (One Night in Turin) dan merupakan produksi bersama dari October Films, Brutal Media dan New Black Films. Film ini mengikuti Liverpool sepanjang musim yang membuat mereka mengakhiri penantian 30 tahun mereka untuk gelar liga.

Menampilkan pemandangan dari orang-orang seperti Sadio Mane, Jordan Henderson dan Alisson Becker, film dokumenter ini menceritakan kisah musim lalu ketika The Reds memenangkan kejuaraan pertama mereka sejak 1990.