Kiat untuk Mengungkap Masalah dalam Studi Media Sosial

Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Korwil Jabodetabek kembali menggelar webinar untuk menyongsong penyelengggaraan Aspikom International Communication Conference (2nd AICCON). Webinar series ke 4 kali ini digelar dengan tema “Retorika dan Tema Fantasi di Media Sosial: Alternatif Penelitian Komunikasi Berbasis Teknologi, Jumat (21/8).

Tema fantasi di media sosial antara lain masalah politik, Humas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) Kantor Kabupaten Jabodetabek kembali menggelar webinar untuk menyambut penyelenggaraan Aspikom International Communication Conference (AICCON 2). Seri webinar keempat digelar dengan tema "Tema Retoris dan Fantasi di Media Sosial: Riset Komunikasi Berbasis Teknologi Alternatif, Jumat (21/8).

Pembicara utama ada dua yaitu Dr. Risa Rumentha Simanjuntak, koordinator penelitian dan dosen senior di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Binus, Dr. Siswantini, Dosen Senior Jurusan Komunikasi Universitas Binus dengan moderator Dr. Euis Komalawati, MSI, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI.

Risa Rumentha Simanjuntak menjelaskan perbedaan Face to Face Communication (FtF) dan Computer Mediated Communication (CMC). Menurutnya, ada feedback di FtF, sedangkan di CMC bersifat one-way. “Di FtF, komunikasi lebih kaya nuansa, sedangkan CMC sebatas sinyal non verbal,” ujarnya.

Risa mengatakan, di FtF artinya dibuat bersama, sedangkan di CMC lebih bergantung pada interpretasi. “Ini juga penting tentang metode. Metode yang digunakan dalam FtF adalah Speech Analysis, sedangkan CMC menggunakan Corpus based,” jelasnya.

Risa juga mengatakan permasalahan dalam kajian media sosial antara lain pandangan realitas yang sangat terbatas, misinterpretasi karena analisis diambil dari sudut pandang pembaca atau peneliti sebagai ahli, kesimpulan yang diambil tidak meyakinkan karena hanya dianalisis dalam waktu yang relatif singkat. Untuk mengatasi masalah ini antara lain dengan melakukan penelitian menggunakan analisis retoris untuk perspektif data yang komprehensif, digunakan analisis berbasis korpus untuk triangulasi, dan data dikumpulkan dengan menggunakan teknologi, ”ujarnya.

Sedangkan Siswantini menjelaskan bahwa analisis tema fantasi merupakan metode yang memberikan kosa kata teknis yang jelas untuk analisis bahasa imajinatif secara umum. Cara ini, kata Siswantini, mengandung dramatisasi yang memicu rangkaian reaksi dan perasaan. Konsentrasi simbolik terjadi melalui serangkaian tema fantasi. Menurutnya, analisis tema fantasi ada tiga tahap, yaitu teks retoris, retoris visi, dan persona dramatis. “Persona dramatis adalah karakter yang digambarkan dalam pesan, yang menghidupkan visi retoris,” jelasnya.

Baca:  FEB UNS dan Desa Binaan Bank Jateng

Siswantini memberikan contoh tema-tema fantasi di media sosial, antara lain tentang isu politik, acara Humas, informasi tentang COVID-19 di media sosial, haters di Instagram.

Di penghujung acara, Dr. Aan Widodo selaku Wakil Ketua Korwil Aspikom Jabodetabek sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Ubhara Jaya memberikan e-certificate kepada pemateri dan moderator.