Kafe kopi di China didenda Rp 4,3 miliar karena pesanan palsu

Segelas Kopi (Ilustrasi)

Salah satu jaringan kafe terbesar di China membuat pesanan palsu menipu konsumen

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Salah satu jaringan kafe terbesar di China didenda 2 juta yuan atau sekitar Rp 4,3 miliar setelah ditangkap karena melakukan 123 juta pesanan palsu. Badan Pengatur Pasar China (SAMR) dalam keputusannya yang dipublikasikan pada Senin (12/10) memberlakukan denda ini kepada lima perusahaan, terutama Luckin Coffee China Co Ltd.

Luckin Coffee China dan Luckin Coffee Beijing selama April-Desember 2019 bekerja sama dengan beberapa perusahaan pihak ketiga untuk menempa 123 juta pesanan. Demikian isi putusan yang beredar di sejumlah media.

Lembaga yang mengatur persaingan bisnis di China mengungkapkan bahwa Luckin Coffee mempekerjakan beberapa individu dan perusahaan untuk melakukan pemesanan palsu. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan pencatatan transaksi bank sehingga menyesatkan konsumen.

Lembaga tersebut memerintahkan pengelola kafe jaringan untuk mengakhiri skandal dan bersaing secara adil. Luckin Coffee, juga dikenal sebagai Ruixing Kafei, didirikan di Beijing pada Oktober 2017. Namun, baru pada Januari 2018 ia membuka gerai pertamanya di Beijing dan Shanghai.

Pada tahun yang sama Luckin Coffee membuka 1.300 toko di seluruh daratan China. Angka itu mengungguli Costa Coffee shop yang menempati kafe terbesar kedua di China.

Dalam beberapa tahun terakhir, persaingan kafe di China semakin meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup penduduk setempat. Kaum muda mulai menyukai kopi setelah minum teh, yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad.

Perubahan gaya hidup inilah yang mendorong Starbucks membuka toko edukasi kopi dan kopi terbesarnya di Shanghai dua tahun lalu. Starbucks Reserve Roastery di Shanghai adalah kedai kopi dan pendidikan Starbucks pertama yang dibangun di luar Amerika Serikat.

Baca:  Korea Selatan kekurangan tempat tidur untuk menampung pasien Covid-19