Jangan menambah nilai, harga gas industri terancam pencabutan

Pabrik industri kimia  (ilustrasi). Tujuh industri yang saat ini sedang menikmati harga gas khusus mesti mawas diri. Sebab, pemerintah akan mencabut previlage ini apabila industri yang mendapatkan harga gas khusus tidak memberikan kenaikan kontribusi kepada pemerintah.

Industri yang mendapatkan harga gas khusus diminta untuk tumbuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tujuh industri yang saat ini menikmati harga gas khusus harus berhati-hati. Pasalnya, pemerintah akan mencabut keistimewaan ini jika industri yang mendapat harga gas khusus tidak meningkatkan kontribusinya kepada pemerintah.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam menjelaskan, Kementerian Perindustrian sedang mengevaluasi tujuh industri yang sudah mendapatkan fasilitas harga gas khusus tersebut. Dia mengatakan, jika kinerja industri tidak bagus, pemerintah bisa menaikkan harga gas lagi.

Khayam menjelaskan, pengaturan harga khusus gas AS 6 dolar AS per MMBTU itu diatur dalam Perpres Nomor 40 Tahun 2016. Dalam Perpres tersebut disebutkan bahwa penurunan harga gas harus dibarengi dengan peningkatan kontribusi pajak kepada negara.

"Saat ini Kementerian Perindustrian sedang melakukan verifikasi," kata Khayam, Minggu (13/12).

Selain itu, pemerintah juga mendorong industri yang mengalami penurunan harga gas untuk tumbuh. Pasalnya, dari pajak dan kontribusi ekspansi, pemerintah bisa melihat kinerja perusahaan yang mendapat fasilitas untuk menurunkan harga gas.

“Tentunya industri juga harus melakukan efisiensi,” ujarnya.

Baca:  Kepada Inggris, Erick Thohir dan Menlu Jajaki Peluang Kerja Sama