Indonesia Minta China Untuk Memberikan Vaksin Tepat Waktu

Menlu RI, Retno Marsudi

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan kunjungan kerja ke Wuyi, China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi melakukan kunjungan kerja ke Wuyi, China pada Jumat (2/4). Dalam kunjungannya, Retno bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi untuk memastikan bahwa China terus memberikan vaksin sesuai dengan kesepakatan dua negara tersebut.

Retno menegaskan kembali komitmen tersebut kepada Wang Yi di tengah pembatasan ekspor vaksin oleh beberapa negara. Retno tak memungkiri fenomena pembatasan ekspor vaksin terjadi akibat peningkatan kasus di beberapa negara produsen vaksin.

“Di tengah dunia yang sangat dinamis, dalam pertemuan bilateral dengan konsulat negara akan kita bahas lebih lanjut untuk kerjasama vaksin dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, kami berharap Pemerintah China akan memberikan dukungan hingga vaksinasi. Ini komitmen pengikatan bisa dilakukan sesuai jadwal yang ada, ”kata Retno dalam jumpa pers, Jumat (2/4).

Selain bertemu dengan Wang Yi, Retno juga bertemu langsung dengan produsen vaksin di China. Ia melakukan diskusi terkait komitmen tersebut dan memastikan tidak ada kendala produksi dari produsen vaksin tersebut. “Kami juga membahas soal penolakan kerja sama vaksin secara langsung dengan produsen vaksin di China,” kata Retno.

Pada akhir Maret, India, pembuat vaksin terbesar di dunia, untuk sementara menghentikan ekspor vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII), karena para pejabat fokus untuk memenuhi permintaan domestik yang terus meningkat.

Institut Serum akan memberikan 90 juta dosis vaksin untuk Covax pada bulan Maret dan April. Meskipun belum jelas berapa banyak dosis yang akan dialihkan untuk penggunaan rumah tangga, fasilitator program memperingatkan bahwa penundaan pengiriman tidak bisa dihindari.

Baca:  Ganja dihapus dari Daftar Narkotika di Thailand

India belum merinci lama pembatasan ekspornya. Tetapi UNICEF, mitra distributor Covax, mengatakan pada akhir pekan bahwa pengiriman diharapkan dapat dilanjutkan pada bulan Mei. Keputusan India adalah yang terbaru dari serangkaian kemunduran terkait Fasilitas Covax, yang diandalkan oleh 64 negara miskin, setelah gangguan produksi dan kurangnya kontribusi pendanaan dari negara-negara kaya.